Ada yang tau lagu “Hanya Satu” yang dibawakan oleh Mocca? Buat yang belon tau, silakan lihat liriknya di bawah ini (disadur dari http://liriklaguindonesia.net/m/mocca/mocca-hanya-satu/)
hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu
hanya satu pintaku
tuk bercanda dan tertawa
di pangkuan seorang ayah
reff: apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
dan tak pernah terbangun
hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
di pangkuan ayah dan ibu
repeat reff
hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap ayah dan ibu
Bagaimana komentar kalian? Jujur pertama kali aku denger lagu ini air mataku siap menetes hehehe…
Trus kenapa sih aku ambil lagu ini untuk dianalisis? Kayak gak ada lagu lain aja… Sebenernya lagu ini memenuhi dua pakemku yang agak sulit untuk dicari: Sesederhana mungkin namun sedalam mungkin.
Terus di mana letak dalamnya? Mungkin kalau sederhananya yah… lirik lagu ini tidak menggunakan kata-kata yang susah ataupun ngegombal, so it’s simple. Simplisitas semacam ini membuat lagu ini dapat dimengerti oleh semua kalangan. Tidak perlu kuliah sastra ataupun menjadi jago puisi untuk memaknai lagu ini
Kehebatannya adalah di kedalaman maknanya. Oke yuk kita lihat beberapa part lagu ini:
hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu
hanya satu pintaku
tuk bercanda dan tertawa
di pangkuan seorang ayah
Mungkin kita dah sepaham, kalau si tokoh yang diceritakan di lagu ini mendambakan bisa bersama ibunya. Tapi sadarkah kalian kalau sebenernya si tokoh ini TIDAK MENGENAL ibu maupun ayahnya? Kok bisa bikin kesimpulan kayak gitu? Yah, menurut aku aja sih, karena dia tidak mengucapkannya dengan kata “ibuku” ataupun “ayahku.” Selain emang gak pas disenandungnya, karena emang si tokoh tidak tahu siapa ibu ataupun ayahnya. Dan kata “seorang” itu bisa merujuk ke siapapun, tapi satu orang loh ya… Satu orang yang random.
Lanjut ke bagian ini:
apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
dan tak pernah terbangun
Sejujurnya ini bagian yang menurut aku agak aneh. Kalau liriknya dirubah menjadi:
apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
takkan pernah terbangun
akan lebih terasa lagi nuansa sedihnya, karena si tokoh sadar bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan orangtuanya dan berharap tenggelam dalam mimpinya, kabur dari realita yang kejam namun tetap tidak bisa dia harus terbangun (karena tak terbangunnya pun hanya sebuah mimpi).
Berikutnya ke durasi lagu yang cuma dua menitan, secara background menggambarkan keinginan si tokoh yang begitu humble, sederhana, gak bertele-tele, dan down to earth.
Dari kunci lagunya pun dimulai dari “A”, yang menurut pengalaman aku sendiri biasanya ditemukan di lagu yang sendu. Juga diselipkan kunci-kunci minor yang juga biasa digunakan di lagu-lagu sendu. Kalau yang ini tampaknya untuk “menenggelamkan” kita dalam suasana hati si tokoh, dengan segala kekurangan dan impiannya. Kalau yang lebih dewa lagi perasaannya, mungkin bisa sampai melihat langit birunya, dan juga si tokoh tertawa bahagia (tapi dalam mimpi lho ya tertawanya, realita memang kejam
)…
Dah segitu dulu analisis versi saya, kalo ada yang mau share analisis versi kalian monggo lho di komentar atau di blognya sendiri hehehe