Sthrattoffcaster

Huwaaa… Tiba-tiba aku jadi suka main gitar lagi… Dan kali ini akut! Jadi suka genjrengan tengah malem and so un, eh, on. Terus terpikirlah untuk membuat sebuah Signature Guitar punya saya, yah meski belom jago-jago amat main gitar, tapi ngayal boleh dong? :D

Ya, Signature Guitar saya (yang entah jadinya kapan, atau malah jadi atau nggak) akan saya beri nama Sthrattoffcaster, dari nama Intornat, eh, Internet saya Sthrattoff dan gitar Stratocaster, model tenar dari pabrikan Fender.

Terinspirasi dari permainan beberapa gitaris, notably Matthew Bellamy, Herman Li, dan tentu saja Michael Angelo Batio, aku coba meracik sebuah gitar yang bisa dipakai memainkan lagu-lagu mereka (toh saya bikin lagu inspirasinya juga dari mereka). So, here’s the specs:

  1. Tujuh senar, 24 fret.
  2. Body model Stratocaster, dengan modifikasi radikal.
  3. Tremolo, kemungkinan pakai punya Ibanez.
  4. Sustainer Sustainiac 7-string di bagian neck pickup.
  5. Built-in effect (ketauan matt-wannabe :P ): KORG MiniKaossPad 2 + Pandora Mini.
  6. Killswitch.
  7. Untuk bridge pickup, masi considering EMG, DiMarzio, atau Seymour Duncan… Mumet.

Sementara itu dulu. Nanti kalo ada perubahan tak edit lagi post ini :D

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kenapa etika bisnis diperlukan…

Saya baru baca dan merenungi sebagian dari komik Kartun Riwayat Peradaban jilid 3 (karangan Larry Gonick).

Di sana diceritakan ketika raja Mali (atau negara manapunlah itu , lupa-lupa inget :P) pergi haji. Beliau pergi, selayaknya raja (tampaknya), dengan membawa banyak sekali EMAS. Lalu sampailah beliau dan rombongan di Mesir. Tampaknya karena tidak tahu harga, sang raja “DIKIBULI” para pedagang Mesir yang menjual mahal barang-barang tersebut (yang anehnya, di komik, dibilang ‘lumayan murah’).

Alhasil, para pedagang itu menjadi kaya-raya. Mereka mampu membeli apapun. Seperti kata buku ekonomi, ketika penawaran tinggi dan barang sedikit, maka harga pun naik. Simpelnya, Mesir mengalami INFLASI!

Yang terjadi berikutnya adalah, masyarakat Mesir yang berpenghasilan pas-pasan (maksudnya, penghasilannya tetap jika dibandingkan dengan para pedagang di atas yang memperoleh keuntungan mendadak, dan gila-gilaan) kehilangan daya beli. Kondisi ini diperparah dengan para pedagang Italia yang ikut-ikutan menjual barang dengan harga tinggi (dan anehnya, laku) dan kemanakah emas itu pergi?

Terlepas dari cerita ini sahih apa enggak, ada intisari yang ingin saya sampaikan di sini: Ketidakjujuran tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tapi juga bisa menyengsarakan orang lain. Dalam konteks ini, para pedagang yang tidak jujur telah mengakibatkan inflasi yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.

Apakah jika kita berlaku jujur dalam perniagaan maka inflasi akan sirna? Well, tampaknya inflasi dipengaruhi banyak hal (hey, saya bukan ekonom) tapi tampaknya perilaku pasar semacam ini adalah salah satu faktornya.

Tell me what you think!

Posted in Economy | Leave a comment

Emailku Sayang, Emailku Malang :(

Para jagoan Internet telah mengimplementasikan beberapa fitur keamanan bagi Email, diantaranya:

  • PGP
  • S/MIME
  • STARTTLS

Di antara ketiga perangkat keamanan tersebut, PGP mungkin paling akrab di telinga kebanyakan orang. Prinsip kerjanya adalah dengan menggunakan pasangan kunci yang tidak sama (kunci asimetrik) yaitu kunci privat dan kunci publik. Pesan yang dienkripsi dengan kunci privat hanya dapat dibuka dengan kunci publik dan berlaku sebaliknya.

S/MIME merupakan standar bagi enkripsi kunci publik dan penandatanganan berkas MIME. S/MIME menyediakan layanan keamanan seperti otentifikasi, integritas, privasi, dan kemanan. Sayangnya tidak semua perangkat lunak Email mendukung S/MIME. Selain itu pesan yang dienkripsi berdasarkan S/MIME tidak dapat didekripsi apabila sertifikat (ya, S/MIME menggunakan sertifikat) tidak tersedia (terhapus, tidak dapat diakses, dll.)

STARTTLS merupakan layer SSL yang diimplementasikan di atas layar SMTP, membuat pesan kebal sadap namun pesannya samasekali tidak terenkripsi sehingga memungkinkan untuk dibaca pada Email relay node.

Sumber: berbagai sumber di htpp//:en.wikipedia.org

 

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Mein Passwort Ist Mein “Secret”

Mein Passwort, Das Ist Mein “Secret”…

Ketika kita membicarakan tentang password, maka biasanya tidak akan terlepas dari berapa username yang kita miliki, yang terkadang mengimplikasikan (tidak selalu sih…) berapa website yang kita tergabung didalamnya?

Orang-orang yang peduli dengan keamanan selalu mengatakan “gunakan password yang berbeda untuk setiap akun yang Anda miliki,” namun saya adalah orang malas sehingga hanya satu password yang saya miliki (tentu saja saya berbohong agar jumlah password sebenarnya yang saya miliki tetap rahasia). Saya menggunakan (set of) password saya untuk login ke jejaring sosial, email, forum, dll (tampak mencurigakan :P).

Saya mengarang sendiri password(s) saya, berdasarkan ilham dari langit :P. Karena hanya ada sejumlah n password, dengan n < jumlah situs yang saya mendaftar didalamnya, yang saya miliki, maka saya mengingatnya di dalam kepala saya sendiri (dan hanya sendiri). Karena sesuai deskripsi di atas bahwa saya adalah seorang pemalas, maka saya tidak pernah mengganti password saya.

Tapi bagi Anda yang sangat peduli dengan keamanan password, saya memiliki cerita menarik. Saya menemukan sesuatu di Internet yang disebut dengan Password Card. Password Card ini dapat Anda gunakan sebagai password-password akun Anda.

Password Card akan di-generate unik untuk Anda (artinya, dijamin tidak akan ada dua Password Card yang sama persis). Setelah itu Anda akan diberikan sebuah file PDF berisikan Password Card Anda.

Di Password Card akan tertulis banyak karakter acak, dengan diberikan indeks berupa angka tiap barisnya, dan gambar lucu pada tiap kolomnya. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mengingat dua koordinat (atau lebih juga bisa), misalkan pada contoh gambar, 2 Hati dan 2 Sekop, artinya password Anda adalah semua karakter di antara 2 Hati dan 2 Sekop. Tentu saja Anda bisa membuat aturan baca diagonal dan sebagainya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Enkripsi Semua Data Anda, Perlukah?

Ketika kita membicarakan enkripsi, apa yang terlintas di benak kita?

Saya pribadi, yang terlintas di benak saya adalah bahwa kita sedang membicarakan sesuatu yang rahasia, atau bahasa kerennya, confidential. Namun seberapa rahasiakah? Atau pertanyaan yang lebih menggelitik lagi, benarkah semua yang dienkripsi itu rahasia?

Bagi saya pribadi, saya menggolongkan data-data saya ke beberapa bagian:

  1. Rahasia, seperti tugas-tugas kuliah (saya tidak senang memberi kesempatan untuk copy-paste), proyek-proyek yang saya kerjakan (sebagai sebuah bentuk profesionalitas), dan lain-lain (if you know what I mean >:D).
  2. Tidak rahasia, seperti file lagu, gambar (bukan foto, kalau foto itu rahasia bagi saya), anime (saya penggemar animasi Jepang), dan lain-lain yang tidak mengandung unsur SARIP dan 3x :p

Untuk kategori pertama, idealnya adalah WAJIB bagi saya untuk meng-encrypt berkas-berkas tersebut karena berkas tersebut memiliki nilai bagi saya, baik nilai ekonomi maupun nilai akademis. Kalau sampai berkas-berkas ini bocor tentu saya akan mengalami kerugian material DAN non-material.

Untuk kategori kedua, tidak usah kiranya saya enkripsi berkas-berkas tersebut. Berkas-berkas pada kategori kedua umumnya bersifat hiburan dan dengan ukuran berkas yang rata-rata besar, akan menjadi tidak nyaman bagi saya apabila harus melakukan dekripsi untuk menggunakan berkas-berkas tersebut.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Le Indonesia harus belajar dari Swiss, part I

Halo pemirsa Internet, apakabar hari ini?

Senang sekali akhirnya saya bisa nge-post lagi di sini. Kali ini saya akan memberikan topik yang (menurut saya pribadi) sangat menarik, yaitu “le Indonesia harus belajar dari Swiss.” (maaf buat kata “le”-nya, kebiasaan nge-9gag wkwkwk :p)

Layar, eh, latar belakang saya bikin post ini adalah karena saya menemukan negara Swiss sangat unik (selain saya lagi mencoba apply beasiswa S2 ke ETH Zurich, doakan dapat ya teman-teman :D). Bagaimana uniknya negara yang gak punya laut, bergunung-gunung, dan kecil wilayahnya (kalau dibanding Indonesia, kalo dibanding Singapura mah gedean Swiss hehehe :P) ini? Mari kita simak pemaparan saya yang masih belajar menganalisa ini :D

LE DEMOCRACY

Sebenarnya apa sih demokrasi itu? Jangan-jangan kita gembar-gembor doang demokrasi padahal gak tau artinya? Demokrasi berasal dari dua kata Yunani, Demos (rakyat, orang-orang) dan Kratos (pemerintahan, mungkin kata “keraton” diambil dari sini juga? yang sastra Indonesia silakan dibantu ya wkwkwk…). Kalau digabung, artinya pemerintahan rakyat. Gampangnya, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Seperti kita tahu di Indonesia, rakyat (kita-kita ini lho) diwakili oleh agan-agan di DPR. Secara struktural di bawah UUD’45 semua lembaga tinggi sederajat. Lha kalau sederajat gimana mungkin merubah yang lain (le misal, MPR ngobok-ngobok MA, harusnya kalo sederajat kan gak bisa)? Tapi masalah yang paling fatal adalah ketika wakil-wakil kita tidak lagi mewakili kepentingan kita. Secara struktural itu tadi, kita gak bisa berbuat apa-apa (coba liat buku PPKn kalian wkwkwk).

Nah di le Swiss, demokrasinya campuran antara demokrasi dengan wakil dan demokrasi ala Athena jaman jebot. Di sini kekuatan demokrasi tertinggi tetap terletak pada rakyat (bukan wakil rakyat, politically speaking). Di le Swiss seorang rakyat dapat menganulir keputusan pemerintah atau parlemen jika ia dapat menggalang massa untuk sepakat tidak setuju dengan keputusan yang diambil. Penggalangan ini biasanya dilambangkan dengan petisi yang ditandatangani massa tersebut (untuk keputusan tingkat federal butuh 100.000 tandatangan).

Kembali ke negeri kita tercinta, secara legal mungkinkah kita melakukan hal tersebut? Peristiwa tahun 1998 sebenernya gak legal secara hukum lho ya, cuma karena “seseorang” itu “mengalah” makanya seolah kita berhasil (apa sih?). Kalo agan-agan di DPR bikin keputusan “ngaco” kita cuma bisa demo yang kadang demonya cuma dianggep angin lalu doang. Kita gak punya power bro.

Yaudah itu dulu untuk hari ini, semoga menarik buat teman-teman semua :D dan maaf ya kalo ada salah-salah, maklum saya orang komputer bukan orang politik, cuma seneng baca aja wkwkwk :p

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hanya Satu: Sebuah Analisis…

Ada yang tau lagu “Hanya Satu” yang dibawakan oleh Mocca? Buat yang belon tau, silakan lihat liriknya di bawah ini (disadur dari http://liriklaguindonesia.net/m/mocca/mocca-hanya-satu/)

hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu

hanya satu pintaku
tuk bercanda dan tertawa
di pangkuan seorang ayah

reff: apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
dan tak pernah terbangun

hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
di pangkuan ayah dan ibu

repeat reff

hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap ayah dan ibu

Bagaimana komentar kalian? Jujur pertama kali aku denger lagu ini air mataku siap menetes hehehe…

Trus kenapa sih aku ambil lagu ini untuk dianalisis? Kayak gak ada lagu lain aja… Sebenernya lagu ini memenuhi dua pakemku yang agak sulit untuk dicari: Sesederhana mungkin namun sedalam mungkin.

Terus di mana letak dalamnya? Mungkin kalau sederhananya yah… lirik lagu ini tidak menggunakan kata-kata yang susah ataupun ngegombal, so it’s simple. Simplisitas semacam ini membuat lagu ini dapat dimengerti oleh semua kalangan. Tidak perlu kuliah sastra ataupun menjadi jago puisi untuk memaknai lagu ini :P

Kehebatannya adalah di kedalaman maknanya. Oke yuk kita lihat beberapa part lagu ini:

hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu

hanya satu pintaku
tuk bercanda dan tertawa
di pangkuan seorang ayah

Mungkin kita dah sepaham, kalau si tokoh yang diceritakan di lagu ini mendambakan bisa bersama ibunya. Tapi sadarkah kalian kalau sebenernya si tokoh ini TIDAK MENGENAL ibu maupun ayahnya? Kok bisa bikin kesimpulan kayak gitu? Yah, menurut aku aja sih, karena dia tidak mengucapkannya dengan kata “ibuku” ataupun “ayahku.” Selain emang gak pas disenandungnya, karena emang si tokoh tidak tahu siapa ibu ataupun ayahnya. Dan kata “seorang” itu bisa merujuk ke siapapun, tapi satu orang loh ya… Satu orang yang random.

Lanjut ke bagian ini:

apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
dan tak pernah terbangun

Sejujurnya ini bagian yang menurut aku agak aneh. Kalau liriknya dirubah menjadi:

apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
takkan pernah terbangun

akan lebih terasa lagi nuansa sedihnya, karena si tokoh sadar bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan orangtuanya dan berharap tenggelam dalam mimpinya, kabur dari realita yang kejam namun tetap tidak bisa dia harus terbangun (karena tak terbangunnya pun hanya sebuah mimpi).

Berikutnya ke durasi lagu yang cuma dua menitan, secara background menggambarkan keinginan si tokoh yang begitu humble, sederhana, gak bertele-tele, dan down to earth.

Dari kunci lagunya pun dimulai dari “A”, yang menurut pengalaman aku sendiri biasanya ditemukan di lagu yang sendu. Juga diselipkan kunci-kunci minor yang juga biasa digunakan di lagu-lagu sendu. Kalau yang ini tampaknya untuk “menenggelamkan” kita dalam suasana hati si tokoh, dengan segala kekurangan dan impiannya. Kalau yang lebih dewa lagi perasaannya, mungkin bisa sampai melihat langit birunya, dan juga si tokoh tertawa bahagia (tapi dalam mimpi lho ya tertawanya, realita memang kejam :( )…

Dah segitu dulu analisis versi saya, kalo ada yang mau share analisis versi kalian monggo lho di komentar atau di blognya sendiri hehehe :P

Posted in Uncategorized | Tagged | 2 Comments

RISC gelut karo CISC

Pernah dengar kata “prosesor”? Tentunya sebagian besar pembaca (yang tentunya membaca lewat komputer ataupun handphone) pernah mendengar kata tersebut. Prosesor adalah otak dari komputer kita, maka tak heran jika beberapa orang memilih komputer (atau laptop, sama saja, dan ketika saya menuliskan komputer berarti saya juga turut memaksudkan laptop, kecuali diberitahu kemudian) berdasarkan prosesornya.

Makin banyak inti prosesornya, makin tinggi frekuensinya, dan makin besar cache-nya (biasanya) membuat sebuah prosesor semakin kencang performanya.

Tapi apakah hanya komputer yang memiliki prosesor? Jawabannya TIDAK!

Handphone, tablet, kalkulator, jam digital, bahkan remote AC sekalipun memiliki (setidaknya) sebuah prosesor didalamnya. Bentuknya lebih kecil. Jika begitu kenapa komputer kita memiliki prosesor yang besar? Jawabannya adalah karena arsitekturnya.

Arsitektur? Emangnya bangunan? Ya, sebenarnya prosesor adalah sebuah bangunan yang rumit, yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengaktualisasikan stimulus yang diterima prosesor tersebut sebagaimana mestinya.

Ada banyak arsitektur prosesor semisal x86, x86-64, ARM, PPC, dll. Namun secara garis besar mereka semua dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah instruksinya menjadi Complex Instruction Set Computer (CISC) dan Reduced Instruction Set Computer (RISC).

Arsitektur CISC memiliki banyak instruksi yang ditanamkan (dalam berupa sirkuit elektronik) pada prosesornya. Tampaknya satu-satunya prosesor CISC yang “tersisa” di muka bumi ini adalah keluarga x86 (termasuk x86-64). BTT, efek dari arsitektur semacam ini adalah lebih pendeknya source code (dalam bentuk Assembly-nya) yang berujung pada ukuran file binary yang lebih kecil. Dari sisi performa juga tentu saja lebih baik dibanding RISC karena kebanyakan instruksi dikerjakan dalam level hardware. Kelemahannya, karena terlalu banyak transistor yang tertanam pada intinya maka konsumsi dayanya juga lebih besar dari prosesor RISC yang berujung pada panas yang dihasilkan oleh prosesor RISC.

Di lain pihak, arsitektur RISC memiliki lebih sedikit instruksi pada intinya, walaupun kebanyakan prosesor RISC dapat disandingkan dengan sebuah koprosesor untuk memperluas instruksinya. Prosesor RISC yang paling terkenal mungkin adalah keluarga ARM. Pernah dengar Qualcomm SnapDragon atau TI OMAP? Mereka adalah salah satu anggota keluarga ARM. Karena lebih sedikit instruksi yang tersedia pada level hardware (yang artinya ada lebih sedikit sirkuit elektronik) dibanding prosesor CISC, maka konsumsi daya dan panas yang dihasilkan prosesor RISC lebih rendah dibanding prosesor CISC. Ini yang menjelaskan kenapa pemakaian prosesor RISC lebih sering ditemui pada perangkat bergerak. Namun karena alasan yang sama, prosesor RISC harus melakukan beberapa instruksi untuk mengerjakan suatu operasi (analogi, 8*4 dikerjakan dengan cara menambahkan 8 sebanyak empat kali) yang berakibat pada panjangnya kode Assembly prosesor RISC jika dibandingkan dengan prosesor CISC, yang tentu saja membuat file binarynya berukuran lebih besar dari file binary prosesor CISC.

Lalu bagaimana dengan performa keduanya? Penjelasannya terlalu panjang untuk dimuat disini hehehe, jadi silakan kunjungi saja http://vanshardware.com/2010/08/mirror-the-coming-war-arm-versus-x86/

Posted in Hardware | Tagged | Leave a comment

Perkenalan

Kenalkan, nama saya Muhammad Chaidir, panggil aja Chaidir. Kalau ada yang pernah jalan-jalan di dunia maya dan ketemu nama “Sthrattoff,” itulah saya :D

Saat ini sedang menempuh S1 di Universitas Gadjah Mada, Fakultas MIPA, Program Studi Ilmu Komputer. Berminat pada sistem komputer dan pemrograman piranti bergerak.

Posted in Uncategorized | 1 Comment